Anggota DPRD NTT Bawa Kabar Gembira, SMK-SMA di Manggarai Dapat DAK Rp 26 M

  • Bagikan

RUTENG, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID-Sebanyak 11 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di tiga Kabupaten Manggarai Raya, yakni Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur, mendapat bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 26.657.474.000. Dana itu untuk kebutuhan pembangunan sarana prasarana sekolah.

Alokasi DAK tahun 2022 bidang pendidikan itu, secara simbolis diserahkan oleh anggota DPRD NTT, saat melaksanakan reses di sejumlah sekolah di Kabupaten Manggarai, Jumat (21/1). Besarnya alokasi yang diterima sekolah di atas 1 miliar.

Terpantau ada sembilan anggota DPRD NTT yang melakukan reses atau kunjungan kerja dan menyerahkan secara simbolis bantuan itu, masing-masing Yeni Veronika, Yohanes Rumat, Ben Isodorus, Johanes Halut, Maksi Adipati, Angela Mercy Piwung, Jimur Siena Katrina, Klara Motu Loi, dan Vinsen Pata.

Dalam wilayah Kota Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai, sekolah yang dikunjung anggota legislatif itu, yakni SMA Katolik St. Fransiskus Xaverius Ruteng, SMK Sadar Wisata Ruteng, dan SMK St. Petrus. Saat tiba di masing-masing sekolah, para anggota DPRD diterima secara adat.

“Kami anggota DPRD, berharap agar DAK ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pemenuhan kebutuhan sarana-prasarana di sekolah. Tentu ini sesuai dengan apa yang menjadi kerinduan kita bersama,” ungkap Yohanes Rumat, saat menyerahkan secara simbolis bantuan DAK kepada kepala masing-masing sekolah itu.

Menurut Yohanes, total seluruh bantuan DAK untuk 11 sekolah di tiga Kabupaten Manggarai Raya itu, sebesar Rp 26.657.474.000. Dari sekolah yang ada, hanya SMK Santo Petrus Ruteng saja yang mendapatkan alokasi DAK paling banyak, yakni Rp 4 miliar. Sementara untuk SMA Katolik St. Fransiskus Xaverius Ruteng, sebesar Rp 2.366.911.000.

Yohanes Rumat menjelaskan, untuk SMK Sadar Wisata Ruteng, bantuan DAK sebesar Rp 1.950.000.000. Khusus untuk SMA Katolik Fransiskus, bantuan dana tersebut untuk pembangunan ruang kelas baru beserta perabotnya, pembangunan asrama siswa beserta perabotnya, dan pembangunan rumah dinas guru beserta perabotnya. Perbandingannya, sekolah swasta lebih banyak jumlah yang mendapatkan DAK.

“Lebih banyak sekolah swasta, itu merupakan paradigma baru, yang mengingatkan bahwa ternyata peran atau kontribusi untuk mencerdaskan anak bangsa, sangat luar biasa. Kita berharap pola lama yang namanya asas adil dan merata, itu ditinggalkan. Tetapi yang terbaru sekarang atas pemenuhan dan tuntas,” ucap Yohanes Rumat.

Sehingga, lanjut dia, anggaran yang dialokasi untuk setiap sekolah, besarnya sekira Rp 1 miliar lebih hingga Rp 4 miliar. Rumat juga berharap, lembaga pendidikan yang menerima bantuan ini, untuk mengelola anggaranya secara transparan. Juga memberikan kualitas yang bagus, sesuai peruntukannya. Sehingga pada saat evaluasi akhir tahun, benar-benar memberikan kepuasan untuk negara.

“Kami anggota DPRD NTT yang hadir melakukan kunjungan kerja di sini, semuanya memiliki peran masing-masing untuk memberikan kontribusi anggaran terhadap masyarakat. Berharap output dari lembaga pendidikan ini nanti bisa menguasai dunia. Dia bisa menguasai banyak hal, dan mengambil bagian dalam banyak hal,” ujarnya.

Sementara Kepala SMA Katolik St. Fransiskus Xaverius Ruteng, Romo Martin Wuang Wilian, Pr, mengaku, pihaknya merasa senang dan bangga dengan bantuan yang ada. Pihaknya tentunya menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah dan DPRD NTT. Karena dalam kunjungan kerja itu, pihaknya mendapatkan bantuan dana yang bersumber dari DAK sebesar Rp 2.366.911.000.

Tentu dana sebesar itu untuk pembangunan ruang kelas baru, dan perabotnya dengan nilai Rp 1.302.700.000. Selain itu, dana yang ada sebagianya untuk pembangunan asarama siswa, beserta perabotnya senilai Rp 683.571.000. Juga untuk pembangunan rumah dinas guru beserta perabotnya senilai Rp 380.640.000.

“Bantuan ini sangat membantu kami dalam memajukan pendidikan bagi siswa di sekolah ini. Terima kasih kepada Pemerintah dan DPRD NTT. Sekolah ini memiliki jumlah rombongan belajar yang cukup banyak. Dimana masih terdapat 8 ruang kelas yang tidak layak untuk kegiatan KBM,” ungkap Romo Martin.

Selain itu, lanjutnya, juga belum adanya gedung untuk aula sekolah. Dimana selama ini masih menggunakan gedung ruang guru yang cukup kecil. Sehingga pihaknya meminta kepada anggota DPRD NTT, bisa memperhatikan untuk perehapan ruang kelas dan pembangunan gedung aula. (*)

Penulis: Fansi Runggat

  • Bagikan