Bermodalkan Dana PWMP, Alumni SMK PP Kementan Sukses Kembangkan Bisnis Peternakan di NTT

  • Bagikan
Laura Tolan, alumni SMK-PP Negeri Kupang yang mengembangkan bisnis usaha ternak babi pedaging memanfaatkan dana PWMP dari Kementan melalui BPPSDMP. (FOTO: Dok. SMK-PP Kementan)

KUPANG-Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengingatkan, industri peternakan memasuki era baru yaitu era industri 4.0 yang menggunakan lebih banyak teknologi. Tren industri 4.0 ini menuntut perubahan yang dilakukan oleh setiap industri salah satunya bisnis peternakan.

Usaha ternak babi merupakan salah satu ternak yang mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan di beberapa wilayah, tak terkecuali di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Harga daging babi tergolong mahal jika dibadingkan dengan daging yang lain.

Namun tidak menurunkan animo pembeli dalam mengonsumsi daging babi ini, karena rasanya yang gurih serta sumber protein berkualitas tinggi dan kaya akan vitamin B. Tentu saja harus dengan cara pengolahan yang tepat.

Beberapa waktu lalu Mentan Syahrul mengatakan, tahun 2022 adalah tahun peternakan. “Tahun ini adalah tahun peternakan, fokus kita ke depan semua keputusan yang diambil harus akurat dan terakselerasi dengan tepat, terarah dan pertajam program peternakan serta lakukan harmonisasi sehingga mencapai kesejahteraan peternak yang lebih baik,” ungkap Syahrul.

Syahrul lebih lanjut menjelaskan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang tidak mengalami keterpurukan, hal itu dibuktikan dengan kenaikan pertumbuhan PDB sektor pertanian yang sangat signifikan yaitu sebesar 12,93 persen, perkembangan nilai tukar petani (NTP) yang mengalami rata-rata peningkatan 0,49 persen dibanding periode sebelumnya dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) yang mengalami kenaikan sebesar 0,51 persen dari periode sebelumnya.

Selain itu, nilai ekspor pertanian selama periode 2021 mengalami kenaikan sebesar 42,47 persen untuk produk pangan dan non-pangan, serta realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) sub sektor peternakan pada tahun 2021 mencapai 100,67 persen naik sebesar 15,16 persen dari target.

Syahrul juga menambahkan bahwa ada berbagai aspek yang menjadi titik pengendalian program, diantaranya peningkatan kualitas pakan, bibit, kesehatan hewan, pengendalian pemotongan betina produktif dan pasca panen, pengolahan produk asal hewan serta manajemen usaha. Untuk itu, Kementan terus konsisten memperhatikan dan mendorong usaha peternakan rakyat dan memprioritaskan keberadaan ternak lokal dalam pemenuhan pangan asal ternak dalam negeri.

Untuk itu Kementan siap menumbuhkan wirausahawan muda pertanian dengan memberikan bantuan modal usaha kepada generasi muda untuk menjadi agripreuner atau pengusaha muda yang bergerak di sektor pertanian melalui program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP).

PWMP merupakan salah satu kegiatan Kementan dalam rangka mewujudkan regenerasi petani yang dirancang untuk penyadaran, penumbuhan, pengembangan dan pemandirian minat, ketrampilan, dan jiwa kewirausahaan generasi muda di bidang pertanian.

Selanjutnya, mengembangkan peluang bisnis bagi lulusan sehingga mampu menjadi job-creator di sektor pertanian (agribisnis), dan mendorong pertumbuhan dan perkembangan kapasitas lembaga penyelenggara pendidikan pertanian sebagai center of agripreneur developmen berbasis inovasi agribisnis.

Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, Kementan harus menyupport melalui pendidikan vokasi yang mampu mencetak sumber daya manusia (SDM) pertanian yang profesional, mandiri, dan berdaya saing. Tentunya petani milenial yang melek teknologi. Karena generasi inilah yang akan memberikan kontribusi terbesar nanti bagi pertanian Indonesia.

“Diharapkan memalui program PWMP ini akan berdampak baik untuk kedepannya terus menciptakan petani milenial yang memiliki kemampuan berwirausaha yang baik dan selalu berusaha memajukan pertanian Indonesia,” tegas Dedi.

Adalah Laura Tolan, salah satu alumni SMK-PP negeri Kupang yang mengembangkan bisnis usaha ternak babi pedaging. Ia sangat bersyukur bisa mendapat dana PWMP dari Kementan melalui BPPSDMP sehingga ia dan kedua teman lainnya mendapat kesempatan belajar menjadi wirausahawan muda dan secara spesifiknya belajar bagaimana menerapkan manajemen budidaya babi yang baik, sehingga bisa memajukan usaha untuk diri sendiri dan untuk mendukung pertanian Indonesia.

Sejak diadakannya program PWMP di sekolah pertanian tahun 2016 inilah, Laura dan dua kawan lainnya mulai menjalankan bisnis ini. Walaupun usaha ini sempat berhenti sejenak dikarenakan adanya badai seroja. Namun pada tahun 2022 ini usaha penggemukan ternak babi dirintis kembali dengan adanya satu indukan babi yang sedang bunting dan dengan sisa modal saat ini sebesar Rp. 1.500.000,00.

Sebelumnya, saat masih menjalankan usaha secara bersama-sama, pada periode pertama kelompok kami membeli tujuh ekor bibit/anakan babi untuk digemukkan. Harga bibit babi tersebut per ekornya adalah Rp 1.500.000,00 dan setelah digemukkan dijual dengan harga Rp 4.000.000,00 per ekornya. "Untuk periode kedua kami membeli 5 ekor bibit/anakan dengan harga yang sama dan dijual kembali setelah digemukkan dengan harga Rp 4.000.000,00 per ekornya," kata Laura.

Namun setelah lulus dari sekolah, ia melanjutkan usaha secara mandiri bertempat di Kelurahan Bello, Kota Kupang hingga saat ini. Dalam menjalankan usaha ini, Laura mengalami hambatan dari segi keterbatasan lahan yang dapat digunakan untuk kandang babi yang akan digemukkan. Sehingga untuk saat ini ia hanya bisa membatasi jumlah ternak babi sebelum ia memiliki modal untuk memperluas lahan.

“Untuk pemasaran, selama ini saya menjual/memasarkan ternak babi hasil penggemukan secara mandiri yaitu para calon pembeli langsung mendatangi lokasi usaha kami. Namun juga saya memasarkan melalui facebook dan whatsapp. Rencana kedepannya saya ingin mengembangan kandang sehingga jumlah populasi ternak akan terus meningkat dan dapat menambah omzet,” tandas Laura. (*)

Penulis: Luluk J. Pertiwi
Editor: Luthfi Retriansyah

  • Bagikan