Hadapi Pemilu, Pdt Elisa Maplani: Gereja Harus Siapkan Kader Terbaik untuk Duduki Jabatan Strategis

  • Bagikan
SAMBUTAN. Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT, Pdt Elisa Maplani, ketika menyampaikan sambutanya pada perayaan HUT Jemaat GMIT Anak Sulung Sikumana ke-11 dan ibadah pengutusan untuk Pdt Maria Monalisa Fanggidae-Dethan, M.Th serta memperhadapkan Pdt. Adelvina Doko-Hege, STh dan Pdt. Marselina Saetban-Maufa, S.Th di Jemaat GMIT Anak Sulung.

KUPANG, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID-Konstalasi politik terus bergulir. Berbagai tahapan tengah diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Partai politik mulai mengajukan bakal calon legislatif (bacaleg) untuk diverifikasi dan ditetapkan sebagai calon tetap.

Pengajuan dan pendaftaran bacaleg telah dimulai sejak 1-14 Mei 2023 di semua KPU. Selain itu, kandidat calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI juga sedang mendaftarkan diri.

Pesta demokrasi yang akan dihelat pada 14 Fabruari 2024 mendatang juga menarik sejumlah pihak termasuk pihak gereja. Gereja diakui tidak terlibat politik praktis namun diharapkan agar mempersiapkan kader-kader terbaik untuk menduduki jabatan yang disediakan tersebut.

Harapan tersebut disampaikan Pdt Elisa Maplani, Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT ketika menghadiri perayaan HUT Jemaat GMIT Anak Sulung Sikumana ke-11 dan ibadah pengutusan untuk Pdt Maria Monalisa Fanggidae-Dethan, M.Th dan memperhadapkan Pdt. Adelvina Doko-Hege, STh serta Pdt. Marselina Saetban-Maufa, S.Th di Jemaat GMIT Anak Sulung.

Pada kesempatan tersebut dirinya mengingatkan bahwa saat ini jemaat diperhadapkan dengan pesta demokrasi serentak untuk menentukan pemimpin guna melanjutkan tongkat estafet pembangunan di NTT maupun ditingkat pusat.

Selain itu, jemaat dan gereja sedang diperhadapkan juga dengan siklus-siklus sidang yang sedang dilakukan baik di gereja maupun tingkat klasis.

"Proses yang sedang berlangsung ini maka panggilan bagi kita untuk mendoakan semua proses agar berjalan dengan baik," sebutnya.

Disebutkan pesta demokrasi pemilihan legislatif dan eksekutif yang digelar lima tahun sekali itu, gereja harus mempersiapkan kader-kader gereja terbaik untuk menempatkan posisi-posisi strategis yang ada.

"Pendeta memang dilarang berpolitik praktis tapi naskah teologi untuk politik, pendeta wajib mengedukasi jemaat dan mempersiapkan kader gereja terbaik untuk ada dalam posisi-posisi terbaik," pintanya.

"Sayangnya semua mau maju. Penilitian menunjukan bahwa masyarakat NTT gampang sekali untuk diarahkan. Kalau ada yang datang kasih okomama dan sopi maka gampang berpaling maka kita wajib mengarahkan sehingga jika gereja berbicara terkait kolaborasi maka bisa berjalan dengan baik demi kesejahteraan masyarakat dan jemaat," tandasnya. (r3)

  • Bagikan