ENDE, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID - Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Ibrahim Gadir Dean menyebutkan, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium kesehatan Denpasar diketahui sebanyak enam sampel babi positif African Swine Fever (ASF) atau demam babi.
Sebelumnya, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende mengirim tujuh sampel ke laboratorium. Enam positif, sementara satu dalam keadaan rusak sehingga tidak terbaca.
Ibrahim yang ditemui di kantor bupati, Rabu (25/2) menyebutkan, sampel yang dikirim berasal dari Kecamatan Ende Tengah yakni dari Kelurahan Paupire dan Wolotolo Kecamatan Detusoko, Kecamatan Ndona yakni dari Wolotopo, Ngalupolo dan dari Kecamatan Kotabaru.
"Hasil dari sampel babi yang kita kirim ke Denpasar yakni tujuh sampel, enam diantaranya positif ASF dan satu sampel rusak tidak terbaca," katanya.
Meski hasilnya positif, namun tegas dia, tidak berdampak langsung kepada manusia hanya antara babi saja.
Menyingkapi hal tersebut, Dinas Pertanian dan Peternakan telah mengambil langkah dengan menurunkan tim ke lapangan yakni para dokter hewan untuk melakukan penyemprotan disinfektan ke semua kandang.
"Penyemprotan tersebut dilakukan di tempat atau area tertular dan juga dikandang yang aman," sebut Ibrahim.
Selain itu, langkah lain yang dilakukan adalah melakukan edukasi dan sosialisasi kepada warga khususnya para peternak babi untuk melakukan bio sekuriti.
"Jangan memberi makan dari sisa limbah rumah tangga apalagi sisa dari makanan babi yang dikonsumsi. Untuk itu makanan atau pakan babi setidaknya harus dimasak terlebih dahulu kurang lebih satu jam baru diberikan," sebut dia.
Kepada masyarakat dia juga mengimbau untuk selalu menjaga kebersihan kandang dan melakukan penyemprotan disinfektan. Selain itu, jangan mengizinkan orang asing masuk ke kandang babi.
"Yang boleh peternak sendiri, namun harus mengenakan alas kaki (sepatu bot). Orang asing dilarang masuk kandang takutnya ada virus yang biasanya menempel pada baju dan terbawa masuk ke kandang," sebutnya.
Dan tidak kalah penting, kata Ibrahim, jangan membuang bangkai disembarang tempat, namun harus dikubur.
"Masyarakat tidak perlu khawatir, karena virus ASF tidak menular kepada manusia namun hanya pada babi," sebutnya.
Selain langkah yang ditempuh tersebut, pemerintah dalam hal ini dinas terus melakukan pengawasan disetiap daerah perbatasan untuk mengatasi lalu lintas perdagangan babi.
"Untuk itu kami akan berkoordinasi dengan bupati untuk mengeluarkan instruksi bupati berkaitan dengan hal tersebut," pungkasnya. (kr4/ays/dek)