BORONG, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mengakibatkan tanah longsor pada sejumlah titik di Desa Golo Wune, Senin (24/2). Tiga rumah warga rusak terkena material tembok penahan tebing (TPT).
Tanah longsor juga menutup akses jalan penghubung antardesa dan ibukota kecamatan. Satu bangunan Gereja Katolik Stasi Golo Wunis nyaris terbawa longsor dan sejumlah tanaman pertanian rusak tertimbun material tanah dan batu. Durasi hujan selama lima jam itu juga menyebabkan kali Wae Lipang meluap.
Tiga unit rumah yang rusak itu masing-masing milik Hendrikus Usi, Blasius Enti dan Sebinus Tanur. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun penghuni yang rumahnya rusak diimbau untuk mengungsi karena kondisi membahayakan saat kembali hujan deras. Pemerintah desa setempat telah memantau bencana, termasuk menemui keluarga korban.
"Kami sudah memantau dan mendata peristiwa bencana yang terjadi. Termasuk menemui kelurga korban yang rumahnya rusak. Kejadian ini kami sudah sampaikan secara lisan ke kecamatan dan BPBD Kabupaten Matim," ungkap Kepala Desa Golo Wune, Yohanes Ngajang, Selasa (25/2).
Yohanes menjelaskan, setelah peristiwa bencana itu semuanya didata, termasuk data kerugian yang dialami warga, pihaknya segera membuat laporan secara resmi kepada Pemerintah Kabupaten Matim dalam hal ini BPBD. Sembari mengimbau kepada masyarakat di desa itu untuk selalu waspada dengan cuaca hujan saat ini.
Terkait longsor yang menutup ruas jalan, kata Yohanes, tidak bisa dibersihkan secara manual. Sebab material longsor terdiri dari tanah, bongkahan batu berukuran besar dan pohon. Sehingga butuh alat berat. Warga hanya membersihkan material yang ada, supaya bisa dilalui sepeda motor.
"Kepada warga saya imbau agar tetap waspada dengan cuaca hujan saat ini. Kepada keluarga koban yang rumahnya rusak, diminta untuk sementara waktu mengungsi karena takut terjadi longsor susulan. Hujan kemarin juga mengakibatkan kali Wae Lipang meluap dan banyak tanaman pertanian yang jadi korban," katanya.
Sementara Sabinus Tanur, salah satu pemilik rumah yang rusak terkena material longsor mengatakan sudah tiga hari wilayah desanya itu diguyur hujan. Namun saat peristiwa bencana longsor, kondisi hujannya sangat lebat dengan durasi sekira lima jam. Rumah miliknya terkena material tanah longsor akibat tembok TPT milik tetangganya ambruk.
"Kalau rumah saya rusak karena bangunan TPT dari tetangga yang ambruk. Kami punya bangunan gereja juga terancam rusak tergerus longsor. Jika kembali hujan dan terjadi longsor, maka gereja ini akan ikut tergerus longsor. Jadi ini juga yang jadi kecemasan kami disini," kata Sabinus.
Menurutnya, ada enam titik longsor yang menutup akses jalan. Kondisi material longsor tidak bisa dibersihkan secara manual oleh masyarakat, tapi butuh alat berat. Masyarakat sangat berharap kepada Pemerintah Kabupaten Matim melalui BPBD agar secepatnya menerjunkan alat berat untuk mengevakuasi material longsor yang menutup badan jalan.
"Termasuk bantuan bagi kami yang jadi korban rumah rusak. Kemudian, bantuan untuk bangunan gereja agar aman dari peristiwa longsor. Mungkin dengan bantuan kawat bronjong," tutur Sabinus. (kr1/ays/dek)