KUPANG, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID - Gedung Graha Undana Kupang tampak semarak pagi itu. Senyum dan haru menghiasi wajah para wisudawan, orang tua serta civitas akademika Universitas Nusa Cendana (Undana).
Momen kebahagiaan ini terjadi pada wisuda Magister, Sarjana dan Diploma periode I tahun 2025, Kamis (27/2).
Acara bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi momen bersejarah bagi Undana yang baru saja menyandang status akreditasi unggul dari BAN-PT.
Sebanyak 1.239 lulusan dikukuhkan menjadi sarjana baru dalam perjalanan hidup mereka. Namun, di balik toga dan ijazah yang mereka genggam, tersimpan amanah besar yang menanti untuk diwujudkan. Seperti yang ditegaskan Rektor Undana, Maxs UE Sanam, gelar akademik bukan hanya simbol keberhasilan, tetapi juga tanggung jawab untuk membangun negeri.
Bagi banyak orang, menyelesaikan pendidikan tinggi adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, Maxs mengingatkan bahwa wisuda bukanlah garis akhir, melainkan awal dari pengabdian yang lebih besar.
"Gelar akademik yang kalian sandang bukan hanya sekadar simbol prestasi, tetapi juga tanggung jawab besar. Gunakan ilmu yang kalian dapat untuk memberikan kontribusi nyata bagi daerah dan masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Timur," tegasnya di hadapan para wisudawan.
Pesan itu seolah menggema di hati setiap lulusan. Tidak sedikit dari mereka yang harus melewati perjuangan panjang untuk mencapai titik ini. Ada yang berasal dari pelosok NTT, menempuh perjalanan jauh demi menuntut ilmu. Ada pula yang bekerja sambil kuliah, mengorbankan waktu dan tenaga demi menggapai mimpi. Kini, setelah resmi menyandang gelar, tantangan baru telah menanti di luar sana.
Tahun ini, katanya, Undana mencetak sejarah baru dengan memperoleh akreditasi unggul dari BAN-PT. Status ini tidak diraih dengan mudah, melainkan melalui proses panjang dan kerja keras seluruh civitas akademika. Dengan pencapaian ini, Undana kini sejajar dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Namun, bagi Maxs, akreditasi unggul bukanlah alasan untuk berpuas diri. Justru, status ini harus menjadi dorongan bagi Undana untuk terus melahirkan lulusan-lulusan berkualitas yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
"Ini adalah hasil kerja keras kita semua, tetapi ini juga menjadi amanah bagi kita untuk terus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan di Undana," ujarnya.
Sejak didirikan tahun 1964, Undana telah melahirkan 96.341 lulusan hingga Februari 2025. Mereka tersebar di berbagai bidang, dari pemerintahan, akademisi, pengusaha, hingga aktivis sosial.
Kini, giliran 1.239 lulusan terbaru yang harus membuktikan bahwa gelar yang mereka peroleh bukan sekadar simbol, melainkan sebuah tanggung jawab. Di tangan merekalah masa depan NTT dan Indonesia berada.
Salah satu lulusan, Maria Yosefa Lelo tidak bisa menyembunyikan rasa haru. Mahasiswi asal Kabupaten Belu ini mengaku, menyelesaikan kuliah bukanlah perkara mudah.
“Orang tua saya petani sederhana. Saya harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah. Tapi saya percaya, ilmu yang saya dapatkan ini harus saya manfaatkan untuk kembali membangun daerah saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun, semangat untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat tetap menjadi kunci.
Salah satu lulusan, Adrianus Ledo bercita-cita menjadi pendidik di daerah terpencil. “Masih banyak anak-anak di kampung saya yang kesulitan mengakses pendidikan berkualitas. Saya ingin kembali dan menjadi bagian dari solusi,” katanya.
Keputusan Adrianus sejalan dengan apa yang selalu ditekankan oleh Undana: pendidikan bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk membangun masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo yang hadir mewakili Gubernur NTT turut memberikan apresiasi atas pencapaian Undana. Ia menegaskan bahwa kualitas pendidikan tinggi memiliki dampak besar terhadap pembangunan daerah.
"Kalian adalah harapan bagi NTT. Ilmu yang kalian peroleh harus menjadi alat untuk membangun daerah ini menjadi lebih baik," pesannya.
Bagi para wisudawan, euforia kelulusan tentu akan segera berganti dengan realitas dunia kerja. “Tantangan mencari pekerjaan, bersaing di pasar tenaga kerja, hingga beradaptasi dengan dunia profesional adalah ujian berikutnya yang harus dihadapi,” tegasnya.
Untuk diketahui, lulusan Magister, Sarjana dan Diploma yang dikukuhkan pada periode wisuda I sebanyak 1.239 orang, dengan rincian laki-laki 423 orang dan perempuan 816 orang. Program Pascasarjana (S2) 17 orang dengan rincian Prodi Ilmu Hukum 5 orang, Prodi Ilmu Lingkungan 6 orang, Prodi Ilmu Peternakan 1 orang, Prodi Ilmu Logistik 2 orang, Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat 3 orang.
Sementara Program Sarjana 1.191 orang yakni FKIP 347 orang, Faperta 90 orang, FPKP 39 orang, FEB 161 orang, FISIP 228 orang, FH 84 orang, FST 77 orang, FKM 88 orang dan FKKH 78 orang. Untuk program Diploma 2 orang, program Profesi Dokter Hewan 11 orang, program Profesi Dokter Umum 18 orang.
Rata-rata IPK lulusan periode 3,51 dan terdapat sembilan wisudawan terbaik diantaranya, Rofina Ayu Setia jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP, Shanty Novinnia Ratu Djawa jurusan Ilmu Komputer FST, Renanta Linggar Mansula jurusan Akuntansi-FEB, Sajid Munandar Alam jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum, Winda jurusan Kesehatan Masyarakat FKM.
Maria Pascalia Sanca Eufrasi Priska Seran jurusan Peternakan, Try Suriani Loit Tualaka jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP, Gregorius Putra Jansen jurusan Agroteknologi Faperta, I Gusti Agung Komang Sri Gayatri jurusan Pendidikan Dokter.
Ada pun wisudawan termuda dan tertua. Wisudawan termuda atas nama Chelsi Aurelia Mbolik, IPK 3,62, usia 20 tahun 4 bulan 5 hari jurusan Prodi Pendidikan Fisika FKIP. Sedangkan Kamaludin Usman, IPK 3,72, usia 45 tahun 4 bulan 15 hari Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP sebagai wisudawan tertua. (cr6/ays/dek)