Hindari Ketergantungan Obat Impor

  • Bagikan
JAWAPOS.COM DOKTOR. Sidang promosi Doktor Pamian Siregar di Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor.

Pamian Siregar Ingatkan Pentingnya Pengembangan Industri Bahan Baku Obat

JAKARTA, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID - Pandemi Covid-19 yang telah berdampak buruk terhadap permasalahan kesehatan telah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya ketahanan kesehatan dalam mencapai ketahanan nasional. Ketahanan nasional terganggu karena banyak aktivitas pada berbagai sektor seperti ekonomi, pendidikan, transportasi, perdagangan, sosial, bahkan keagamaan, tidak dapat berjalan secara normal.

Permasalahan kesehatan yang terjadi terutama disebabkan oleh kelangkaan obat-obatan (drug disruption) akibat gangguan pasokan Bahan Baku Obat (BBO) dari Tiongkok dan India sebagai produsen utama BBO global.

Ketergantungan yang tinggi industri farmasi Indonesia terhadap impor BBO yang mencapai 90-95 persen menyebabkan ketahanan farmasi dan ketahanan kesehatan rendah yang selanjutnya akan berimplikasi pada ketahanan nasional.

Pemerintah telah berusaha mengembangkan industri BBO di dalam negeri sejak tahun 1980-an, tetapi belum berhasil meningkatkan investasi pada industri BBO sehingga belum berkembang. Hal ini dapat dilihat dari jumlah manufaktur BBO di Indonesia tidak bertambah secara signifikan.

Permasalahan tersebut menjadi perhatian Pamian Siregar sehingga melakukan penelitian untuk disertasi dalam menyelesaikan studi pada program Doktoral Managemen Bisnis di Sekolah Bisnis IPB University.

Penelitian dengan judul “Model dan Strategi Pengembangan Industri Bahan Baku Obat (BBO) di Indonesia” berhasil dipertahankan dihadapan Komisi Promosi pada Sidang Promosi Terbuka Program Doktor (S3) di Sekolah Bisnis IPB University Bogor, Rabu (26/2). Sebagai promotor adalah Prof Dr Ir M Syamsul Maarif, MEng, bertindak sebagai Co-Promotor adalah Dr Siti Jahroh, BSc, MSc dan Prof Dr Laksono Trisnantoro, MSc, PhD.

Pamian Siregar saat ini menjabat Direktur Utama PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia yaitu anak usaha PT Kimia Farma Tbk yang bergerak dalam produksi BBO dan merupakan pionir industri BBO di Indonesia.

Menurut Pamian, urgency pengembangan industri BBO di Indonesia jauh lebih tinggi mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, mencapai 280 juta dan menjadi negara nomor 4 terbesar di dunia.

Indonesia harus serius melakukan pengembangan industri BBO di dalam negeri karena resikonya sangat tinggi apabila menggantungkan masa depan kesehatan dan ketersediaan obat untuk penduduk yang sangat besar tersebut kepada negara lain.

Penelitian berhasil menganalisis berbagai permasalahan dan tantangan pengembangan industri BBO di Indonesia. Tantangan utama adalah profitabilitas industri BBO di Indonesia rendah, masuk dalam kualifikasi industri yang tidak menarik (unfavorable) sehingga tidak attractive untuk investasi. Untuk itu dibutuhkan model dan strategi yang dapat meningkatkan ekosistim industri untuk peningkatan keekonomian industri.

Dia mengusulkan model pengembangan industri BBO di Indonesia menggunakan kombinasi pendekatan ketahanan (resiliency) dan pendekatan ekonomi. Untuk itu perlu dilakukan transformasi konsep ketahanan nasional melalui transformasi dimensi ketahanan nasional.

Strategi jangka pendek menggunakan pendekatan ketahanan karena industri belum memiliki daya saing, diarahkan untuk meningkatkan keekonomian industri BBO dalam negeri sehingga memiliki sustainability dan dapat menarik masuknya investasi pada industri. Strategi jangka pendek membutuhkan dukungan kuat dari pemerintah melalui berbagai kebijakan keberpihakan yang dapat menyelesaikan permasalahan industri.

Industri BBO dalam negeri harus mengembangkan daya saing sehingga pada jangka menengah-panjang dapat mendukung peningkatan daya saing industri farmasi nasional dan pertumbuhan ekonomi nasional. Dukungan pemerintah dikurangi seiring dengan peningkatan daya saing industri.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementrian Kesehatan, Dr Dra Lucia Rizka Andalucia, Apt, MPharm, MARS dalam sambutannya pada Sidang Promosi menguatkan pentingnya kemandirian BBO untuk mendukung program Kesehatan pemerintah dan ketahanan kesehatan Indonesia. (jpc/ays/dek)

  • Bagikan

Exit mobile version