Tangani Stunting di NTT, Kemendukbangga Libatkan Perguruan Tinggi

  • Bagikan
ALEXANDER LEONARDO RADITIA FOR TIMEX STUNTING. Gubernur NTT, Melki Laka Lena bersama Bupati Walikota se-NTT foto bersama Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / Kepala BKKBN, Dr. Wihaji usai pertemuan di Jakarta, Rabu (19/3).

KUPANG, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / Kepala BKKBN, Dr. Wihaji mengungkap, NTT sebagai daerah percontohan atau pilot project dalam upaya pemberantasan kemiskinan ekstrem dan penanganan stunting.

NTT, sebagai daerah percontohan atau pilot project dalam upaya pemberantasan kemiskinan ekstrem dan penanganan stunting. Maka pihaknya telah bekerja sama dengan dua universitas serta sejumlah korporasi untuk terlibat langsung dalam penanganan di NTT.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / Kepala BKKBN, Dr. Wihaji saat menerima kunjungan Gubernur NTT, Melki Laka Lena bersama Bupati Walikota se-NTT,  Rabu, (19/3).

"Saat ini kami telah mendorong Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang untuk melakukan riset serta langsung terlibat dalam penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem di NTT," ungkap Menteri Wihaji.

"Sejumlah korporasi akan digandeng untuk mendukung pembangunan rumah layak huni, pengadaan air bersih, serta menjadi orang tua asuh untuk pencegahan stunting. Para korporasi ini akan mengalokasikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mereka untuk mendukung program-program tersebut di NTT," tambahnya

Ia menjelaskan, Kemendukbangga sudah memiliki sejumlah program dan alokasi anggaran khusus untuk NTT.

"Saat ini, terdapat 4.328 tim pendamping keluarga (TPK) di NTT yang terdiri dari 13.242 orang, termasuk 4.142 bidan, 4.376 kader PKK, dan 4.392 kader KB. Keberadaan TPK ini dioptimalkan untuk membantu 1,127 juta keluarga, termasuk 331.116 keluarga yang berisiko stunting di NTT," jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, membahas strategi bersama dalam mengoptimalkan bonus demografi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga di NTT. Khususnya bagi 331 ribu Keluarga Risiko Stunting (KRS) dan masyarakat yang masih mengalami keterbatasan akses terhadap sanitasi dan air bersih.

Sinergi Kemendukbangga / BKKBN dan Pemprov NTT, diharapkan dapat mempercepat penurunan angka stunting, meningkatkan akses air bersih, dan memperluas lapangan kerja, demi menciptakan keluarga yang lebih mandiri dan sejahtera.

Kesempatan itu Gubernur Melki Laka Lena menjelaskan, semoga dengan kolaborasi ini upaya pemberantasan kemiskinan ekstrem dan penanganan stunting di NTT bisa cepat terselesaikan.

"Saat ini juga dalam Dasa Cita Ayo Bangun NTT  terdapat cakupan adalah Posyandu Tangguh, Masyarakat Sehat dan Bebas Stunting. Selain itu juga melalui revitalisasi bumdes dan koperasi dengan pengembangan One Village One Product (Satu Desa Satu Produk Unggulan) untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tentunya dengan dukungan sinergitas dari kita semua, maka akan sangat membantu untuk menangani stunting dan kemiskinan ekstrem di NTT," jelasnya. (dek)

  • Bagikan