Penerang Kegelapan Sambut Lailatul Qadar

  • Bagikan
LOMBOK POS NYALAKAN. Dua orang anak di Lombok Timur (Lotim) saat menyalakan obor kecil atau dila jojor pada malam ke-25 bulan Ramadan, Senin (24/3).

Melihat Tradisi Maleman di Desa Songak

Salah satu tradisi masyarakat Lombok Timur (Lotim) di bulan Ramadan yang masih terjaga ialah tradisi maleman. Tradisi ini dilakukan untuk menyambut datangnya Lailatul Qadar, yang diyakini jatuh pada malam-malam ganjil.

SUPARDI, Lombok Timur

DOA baru saja selesai di panjatkan oleh sang tetua desa melalui masjid. Anak-anak tampak berlarian mencari kawan mereka. Terlihat masing-masing mereka menenteng obor kecil mirip sate gosong. Rintik hujan yang turun sejak sore itu tidak menyurutkan semangat segera menyalakan obor-obor kecil itu.

Lampu-lampu sekitar rumah, mulai padam. Terlihat dari kejauhan cahaya remang mulai berjejer di sudut-sudut rumah dan jalan perkampungan. Obor-obor kecil itu mulai dinyalakan. Menyambut Lailatul Qadar yang diyakini jatuh pada malam-malam ganjil di 10 malam terakhir Ramadan.

Menyalakan obor kecil atau dila jojor merupakan sebuah tradisi masyarakat Lombok, yang masih eksis. “Tradisi ini merupakan perpaduan antara adat dan agama,” terang Kepala Bidang Pencatatan Nilai Budaya dan Pemeliharaan Peninggalan Cagar Budaya, Lembaga Adat Darmajagat Desa Songak, Kecamatan Sakra Saepul Hakkul Yakin, Senin (24/5).

Pelaksanaan tradisi ini di masing-masing desa berbeda-beda. Ada yang pelaksanaannya hanya satu malam ganjil. Ada juga yang melaksanakan setiap malam ganjil di 10 malam terakhir. Bahkan menyalakan dila jojor juga dilakukan di makam keluarga.

Di Desa Songak sendiri, pelaksana maleman dimulai pada malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29. Ia menyebut pelaksanaan tradisi, berdasarkan salah satu hadis rasulullah yang mengatakan Alquran diturunkan di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

“Alquran turun sebagai cahaya penerang saat manusia dalam keadaan zulumat atau hidup dalam kegelapan. Itulah yang mendasari tradisi maleman atau menyalakan dila jojor ini,” imbuhnya.

Pelaksanaan tradisi ini biasanya dilakukan setelah berbuka puasa. Saat dimulainya tradisi maleman di Desa Songak, setiap lampu dipadamkan. Kemudian diganti dengan dila jojor. Obor-obor kecil ini akan ditancapkan di setiap sudut rumah, pekarangan rumah, gang-gang dan tempat-tempat lainnya.

Masyarakat akan kembali menyalakan lampu, setelah dila jojor yang ditancapkan habis atau mati dengan sendirinya. Dila jojor ini terbuat dari kapas yang dicampur dengan buah jamplung atau nyamplung.

“Buah nyamplung kering akan ditumbuk halus. Setelah itu akan dibalut dengan kapas, kemudian di jemur,” katanya.

Kata dia, tradisi maleman di Desa Songak mengalami sedikit pergeseran. Sebelumnya pelaksanaan tradisi ditandai dengan pemukulan beduk terlebih dahulu di masjid. Kemudian kiyai atau tetua di desa melanjutkan dengan berdoa. Baru kemudian masyarakat mulai menyalakan dila jojor secara bersamaan.

Masyarakat yang mendengarkan doa kemudian akan mengaminkan setiap doa-doa yang dipanjatkan. Namun saat ini masyarakat tidak perlu lagi menunggu beduk. Doa yang dipanjatkan melalui masjid menjadi pertanda dimulainya dila jojor dinyalakan.

“Tradisi ini masih terjaga di tengah-tengah masyarakat. Bahkan warga juga membawa dulang ke masjid untuk buka puasa bersama,” katanya. (r6/jpg/ays/dek)

  • Bagikan