Emboli Paru Rentan Bagi Anak 0-17 Tahun yang Pernah Kena Covid-19

  • Bagikan
Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman. (FOTO: JawaPos.com)

JAKARTA, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID-Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, potensi dan risiko seseorang mengalami Long Covid atau gejala sisa berkepanjangan usai tertular Covid-19 bisa terjadi meski sudah sembuh.

Dicky menyebutkan, sesuai laporan Pusat Pencegahan dan Pengendalian (CDC) Amerika Serikat, risiko Emboli Paru ini bisa terjadi pada anak-anak usia 0-17 tahun. Dalam laporan itu disebutkan, anak bisa berisiko mengalami Emboli Paru atau sumbatan pada pembuluh darah di paru.

Menurut Dicky Budiman, kesempatan dan upaya terbaik untuk mencegah long Covid-19 adalah dengan tidak terkena Covid-19 atau menghindari terinfeksi Covid-19. Ketika akhirnya keluar dari pandemi, kata dia, Long Covid akan menjadi tantangan kesehatan masyarakat.

“Ini jadi tantangan terbesar yang bisa berlangsung lebih dari 10 tahun akibat kegagalan kita atasi infeksi Covid berulang,” tegas Dicky kepada JawaPos.com, Senin (22/8).

Laporan CDC menyebutkan dibandingkan dengan pasien berusia 0-17 tahun tanpa Covid-19 sebelumnya, pasien anak dengan riwayat Covid-19 memiliki tingkat Emboli Paru akut yang lebih tinggi (rasio hazard yang disesuaikan = 2,01). Emboli Paru adalah penyumbatan pada pembuluh darah di paru-paru.

Lalu risiko miokarditis dan kardiomiopati (1,99), kejadian tromboemboli vena (1,87), akut dan gagal ginjal yang tidak ditentukan (1,32), dan diabetes tipe 1 (1,23).

Dicky menyatakan, strategi pencegahan Covid-19 (3T dan 5M) termasuk vaksinasi untuk semua orang yang memenuhi syarat berusia di atas 5 tahun, sangat penting untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2 dan penyakit berikutnya.

“Cara ini akan mengurangi dampak kesehatan masyarakat dari gejala dan kondisi pasca-Covid di antara anak berusia 0–17 tahun bertahun-tahun,” katanya. (jpc/jpg)

  • Bagikan

Exit mobile version