Safari Politik Gibran Patut Diwaspadai

  • Bagikan
Jimmy Nami

Berpotensi Menarik Suara Ganjar-Mahfud

KUPANG, TIMEX.FAJAR.CO.ID – Provinsi NTT menjadi sasaran empuk para politisi yang akan bertarung pada pemilu 2024 mendatang. Terutama, bagi kaum-kaum elit yang akan bertarung pada pemilihan presiden nanti.

Sebut saja, capres nomor urut 1 Ganjar Pranowo yang tiba di NTT pada, 1 Desember lalu. Selanjutnya, diikuti oleh cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka yang juga menginjakkan kaki di bumi Flobamorata, 29 Desember 2023.

Kedatangan Gibran rupayanya tidak sendiri, beberapa waktu sebelum kedatangannya, sang adik, Kaesang Pangarep yang adalah Ketua Umum PSI juga dua kali berturut-turut turun ke NTT, yakni sebelum dan sesudah kedatangan Ganjar ke NTT. Hal ini seakan-akan, kakak-beradik itu mengepung NTT tanpa henti di momen perayaan Natal.

Menurut Pengamat Politik dari Undana, Yohanes Jimmy Nami, kedatangan Gibran serta para politisi elit ke NTT memang ada alasan tertentu yang lebih dari sekadar kepentingan elektoral semata. Menurutnya, NTT memiliki ciri pluralisme yang mampu menarik para kontestan pilpres untuk datang.

“NTT menarik karena menjadi potret bagi masyarakat multikulturalisme Indonesia. Jadi bukan sekadar potret elektoral ketika bicara NTT, tapi bicara tentang Indonesia,” ucap Jimmy, Sabtu (30/12).

Dikatakan, NTT tidak sekadar elektoral, sebab jumlah penduduk dan wajib pemilih NTT tidak sebanding dengan Jawa dan Sumatera. Bahkan, terangnya, seluruh Indonesia Timur apabila jumlah suaranya digabung pun, belum sebanding dengan Jawa Timur.

“Jadi bicara NTT, kita bicara tentang solidaritas sosial yang melampaui berbagai unsur entitas menjadi kekuatan masyarakat NTT. Nah, ini penting untuk dipublikasikan untuk disosialisasikan sebagai benteng yang kuat dari demokratisasi di Indonesia,” jelasnya.

Jimmy menyampaikan, apabila saat ini kontestan pilpres merasa berkepentingan untuk hadir di NTT, hal itu merupakan karakteristik kenegarawanan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dan beradab dengan menunjukkan kekuatan solidaritas Indonesia dan tidak sekadar kepentingan elektoral semata.

“Bicara persatuan yang menjadi dasar ideologis Indonesia,” tegas Jimmy.

Sementara itu, dari segi elektoral, pengamat politik dari Unwira Kupang, Urbanus Ola Hurek memaparkan, kedatangan kakak-beradik, Gibran dan Kaesang ke NTT sudah melalui perhitungan atau kalkulasi politik yang matang.

Urbanus menjelaskan, NTT merupakan lumbung suara ayah keduanya, yakni Joko Widodo serta merupakan basis pemilih tradisional PDIP.

“Kedatangan ini tentu bertujuan merawat pemilih Jokowi dan menarik pemilih tradisional PDIP,” katanya.

Apalagi, kedatangan keduanya membaca konteks psikologis masyarakat NTT yang mayoritas adalah beragama Katolik dan Kristen. Hal itu menurut Urbanus merupakan langkah cerdas. Sebab, momen perayaan Natal merupakan momen spesial yang digunakan untuk menyentuh hati nurani masyarakat NTT.

“Momen yang dimanfaatkan ini juga menarik simpati pemilih bagi sebagian besar warga NTT yang merayakan Natal,” ungkap Urbanus.

Dirinya menyinggung, kedatangan Kaesang ke Kabupaten Sikka telah melalui perhitungan cermat karena Sikka dijadikan barometer politik di NTT sejak masa orde baru. Lanjutnya, Sikka merupakan basis kuat PDI di era Orba dan basis kuat PDIP. Karena itu, kedatangan Kaesang seakan memporak-porandakan suara PDIP.

Urbanus menjelaskan, terkait kedatangan Gibran ke Labuan Bajo, Manggarai Barat yang saat ini sebagai pintu masuk NTT dan juga basis Partai Nasdem di Flores.

“Jadi NTT dipilih dan berulang kali ini tentu didasari pertimbangan tersendiri oleh paslon capres-cawapres 2,” tambahnya.

Hal ini pun akan berpengaruh terhadap elektabilitas Ganjar-Mahfud di NTT. Karena itu, Urbanus menegaskan, kunjungan safari politik Gibran patut diwaspadai oleh Ganjar lantaran berpotensi menarik suara Ganjar-Mahfud maupun PDIP, yang menganggap NTT sebagai basis rumahnya. (cr1/ays)

  • Bagikan

Exit mobile version