Dramatisasi Kitab Suci jadi Syarat Lulus di SMPN 4

  • Bagikan
FANSI RUNGGAT/TIMEX UJIAN. Suasana ujian keterampilan pendidikan agama dengan materi ibadah sabda yang dibawakan oleh salah satu kelompok kelas IX SMPN 4 Langke Rembong, Senin (6/5).

RUTENG,TIMEX.FAJAR.CO.ID- Usai ujian teori, pelajar kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, wajib ikuti ujian keterampilan sebagai syarat kelulusan. Salah satunya, ujian dramatisasi perikop kitab suci dari mata pelajaran agama, Senin (6/5).

Selain itu, keterampilan yang dipentaskan pada pendidikan agama katolik itu, yakni materi ibadah sabda. Bagian dari ujian akhir sekolah (UAS) itu berlangsung di sejumlah ruangan kelas. Total peserta sebanyak 159 orang, dan dibagi 5 kelompok. Masing-masing kelompok jumlahnya ada yang 6 orang, dan juga ada 7 orang.

Pengujinya tiga orang guru agama, yakni Silvester Daud, Hermina Edit, dan Dorotea Nonitea Deri. Kepala sekolah, Resman Wenseslaus Yan, juga ikut memantau kegiatan ujian keterampilan tersebut. Khusus ujian materi ibadah sabda, setiap kelompok membawa aspek pendukung, seperti lilin, salib, buku kitab suci, dan buku atau teks lagu.

"Tujuan akhir dari pelajaran pendidikan agama dalam kurikulum pendidikan adalah menyiapkan manusia Indonesia yang berkepribadian dan berkarakter luhur, sesuai dengan ajaran agama dan keyakinan yang dianutnya," jelas guru penguji, Silvester Daud yang ditemui media ini di SMPN 4 Langke Rembong.

Lanjut Silvester, salah satu karakter luhur yang diharapkan dimiliki peserta didik, memiliki ketrampilan untuk menerapkan nilai-nilai ajaran agamanya dalam kehidupan bermasyarakat, dan menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya dengan benar. Sehingga atas pemikiran dasar itu, maka sekolah itu melaksanakan ujian keterampilan sebagai salah satu syarat kelulusan.

"Dalam kesepakatan bersama guru dan kepala sekolah, menetapkan bahwa UAS sebagai salah satu syarat bagi pelajar kelas IX untuk dinyatakan lulus adalah ujian ketrampilan untuk semua pelajaran. Tentu untuk pendidikan agama katolik, materinya dramatisasi perikop kitab suci dan ibadah sabda," jelas Silvester.

Dijelaskannya, peserta yang dibagi dalam 5 kelompok setiap rombongan belajar (Rombel) itu, diberi untuk memilih salah satu dari kedua jenis ujian tersebut. Terkait ujian dramatisasi perikop kitab suci, bentuk menghidupkan teks kitab suci dalam gerak dan tutur. Diharapkan peserta dapat memahami dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara ibadah sabda, jelas Silvester, yaitu bentuk ibadah sederhana yang biasa dibuat oleh setiap orang beriman katolik. Baik dalam keluarga maupun dalam Kelompok Basia Gereja (KBG). Tujuan yang hendak dicapai, peserta didik tidak hanya aktif mengikuti ibadah sabda dalam keluarga, tetapi juga memiliki ketrampilan untuk berperan aktif.

"Aktif kegiatan ibadah itu mulai dari hal sederhana. Misalnya menjadi lektor atau pembaca teks kitab suci, mengangkat lagu sampai sebagai pemimpin ibadah. Ada tiga tema dalam ibadah sabda, yakni syukur atas ulang tahun, syukur atas berkat yang diterima keluarga, dan mohon memilih sekolah yang tepat setelah tamat SMP," ungkapnya.

Silvester mengatakan, pada tahap persiapan awal, para guru agama melatih peserta dengan mulai memikirkan temanya. Artinya tema yang dipilih itu, harus sinkron dengan lagu yang pilih, wujudnya dan bacaan atau injil, juga renungan. Terkait aspek penilaian untuk ibadah sabda, penguasaan teks, penghayatan karakter, dan aspek pendukung.

"Jadi ujian keterampilan pendidikan agama katolik ini, setiap kelompok ada yang pilih dramatisasi perikop kitab suci, dan juga ada pilih ibadah sabda. Tapi kami dari tiga guru agama, mewajibkan dari 5 kelompok setiap Rombel, maksimal yang pilih dramatisasi cukup 3 kelompok," kata Silvester diamini guru agama, Hermina Edit dan Dorotea Nonitea Deri. (kr1/thi)

  • Bagikan

Exit mobile version