Menjadi Cahaya Kasih

  • Bagikan
Romo Sipri Senda, Pr

CAHAYA berfungsi menerangi tempat hidup manusia agar manusia dapat melihat dengan jelas dan melaksanakan aktivitas dengan baik. Dalam kegelapan, manusia tak dapat melihat dengan jelas dan sulit melakukan aktivitas dengan baik. Cahaya dibutuhkan manusia untuk beraktivitas dengan baik dan lancar.
Dalam kehidupan sosial, cahaya dipakai pula secara metafora. Cahaya menjadi simbol sesuatu yang baik, benar, indah, membahagiakan. Sebaliknya gelap simbol dari yang buruk, jahat, sesat, jorok dan sejenisnya. Maka cahaya itu dikehendaki dan dicari oleh manusia untuk membuat hidup bermakna di hadapan Tuhan dan sesama.

Dalam kitab suci, cahaya menjadi simbol kebenaran, kebaikan, kasih, kehadiran Allah yang menyelamatkan. Bacaan-bacaan pada hari Minggu ini mengetengahkan cahaya dalam kehidupan manusia. Cahaya dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan kasih Allah kepada manusia, juga kasih manusia kepada Allah dan sesama. Cahaya kasih itu memancar dalam perbuatan manusia yang selaras dengan kehendak Allah. Dengan itu manusia menjadi cahaya bagi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama.

Dalam teks Yes 58:7-10 terdapat perlukisan perbuatan baik manusia sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Misalnya membantu sesama yang susah: memberi makanan kepada yang lapar, memberi tumpangan kepada orang miskin yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada yang telanjang. Dengan itu cahaya kasih bersinar terang benderang dan luka jiwa dipulihkan. Cahaya kemanusiaan akan bersinar terang benderang dalam perbuatan baik yang dilakukan dan perbuatan jahat yang dielakkan, yaitu penindasan dan fitnah, sebagaimana diungkapkan dalam teks Yesaya ini. Jika cahaya kasih bersinar, maka kegelapan dosa dihalaukan.
Dalam teks 1Kor 2:1-5, Paulus menerangi pemahaman jemaat Korintus dengan cahaya kasih dalam hikmat pengajaran iman. Inti dari pengajaran iman itu adalah Kristus Tersalib. Dialah hikmat Allah kepada manusia. Dialah Cahaya Ilahi yang menerangi jalan hidup manusia menuju keselamatan. Paulus diutus untuk mewartakan Cahaya keselamatan itu kepada jemaat. Dengan cara demikian, Paulus juga telah menjadikan hidupnya sebagai cahaya bagi sesama, dalam hal ini jemaat Korintus. Melalui pengajaran Paulus, mereka memahami Yesus Kristus Tersalib dan semakin beriman kepadaNya.

Teks Mat 5:13-16 menampilkan metafora Yesus mengenai garam dan terang dunia. Khusus mengenai terang dunia Yesus menghendaki agar para muridNya menjadi cahaya kasih dalam perbuatan baik demi kemuliaan Allah. "Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di Surga." Pernyataan Yesus ini menggarisbawahi dua hal. Pertama, cahaya setiap orang beriman adalah perbuatan baik yang dilakukan di depan orang. Artinya aksi kasih dalam perbuatan baik tidak boleh disembunyikan atau ditahan, tetapi diwujudkan untuk kebaikan bersama. Kedua, perbuatan baik itu tidak saja demi keselamatan manusia, tetapi juga dan terutama demi kemuliaan Allah Bapa. Artinya melalui kesaksian perbuatan baik itu, orang dihantar untuk sampai kepada pemuliaan Allah. Cahaya kasih yang diwujudkan dalam perbuatan menjadi sarana bagi sesama untuk mengenal Allah dan memuliakan Allah yang menjadi sumber kebaikan dan keselamatan.

Dari ketiga bacaan tersebut dapat ditarik beberapa hal praktis untuk dihayati sebagai bentuk ekspresi menjadi cahaya kasih dalam kehidupan kristiani maupun manusiawi melalui perbuatan baik. Pertama, setiap murid Kristus dipanggil dan diutus untuk memberi kesaksian iman melalui perbuatan baik. Dengan melakukan perutusan itu, murid Kristus menjadi cahaya kasih dalam kehidupan bersama. Cahaya itu memancar dan mengubah kehidupan bersama menjadi bermakna. Tindakan kebaikan sebagai wujud cahaya kasih dapat berupa hal-hal yang diungkapkan dalam teks Yesaya, yaitu menolong sesama yang susah, menjauhkan diri dari tindakan penindasan dan fitnah.
Kedua, belajar dari Paulus yang giat mewartakan pengajaran iman yang benar dengan berpusat pada Kristus Tersalib, maka setiap murid Kristus hendaknya menjadi cahaya kasih melalui pewartaan pengajaran iman melalui lisan dan tulisan. Lisan dan tulisan dapat menjadi cahaya kasih bila di dalamnya termuat kebenaran, kebaikan, keindahan, ketulusan, keadilan, serta nilai-nilai kristiani lainnya. Lisan dan tulisan murid Kristus menjadi ekspresi cahaya kasih yang bersinar membawa hikmat kristiani agar orang mengenal Kristus dan semakin mengimani Dia. Satu hal penting adalah bahwa Kristus yang diimani itu adalah Dia yang Tersalib. Dimensi salib menjadi bagian utuh dari kekristenan. Salib adalah cahaya keselamatan. Siapa yang mau mengikuti Yesus hendaknya menyangkal dirinya, memikul salib ya dan mengikuti Dia. Dalam salib ada cahaya kesetiaan, keberanian, kerelaan berkorban, kasih tanpa pamrih, kesabaran, ketabahan dalam derita. Cahaya inipun memancar benderang untuk menggerakkan sesama kepada kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan. Nama Tuhan dimuliakan berkat cahaya kesaksian itu.

Ketiga, memuliakan Tuhan ternyata tidak melulu dengan lagu pujian. Satu aspek yang penting diilhamkan melalui teks Mat yaitu pengikut Kristus memuliakan Allah Bapa melalui perbuatan kasih. Perbuatan itu menggerakkan orang yang melihatnya untuk memuliakan Allah juga. Maka murid Kristus hendaknya selalu memuliakan Allah dengan perbuatan baik. Itulah wujud menjadi cahaya kasih dalam kehidupan kristiani maupun manusiawi. (**)

Rm. Siprianus S. Senda, Pr
Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

  • Bagikan

Exit mobile version