Kiprah Fatayat PCI NU Jerman sebagai ”Rumah” bagi Generasi Muda Putri Indonesia di Perantauan
Tiap selesai pengajian, Fatayat PCI NU Jerman selalu mengadakan sesi sharing tentang fikih wanita, pendidikan atau hal-hal keseharian yang dihadapi para anggota. Sebagaimana tradisi NU, semua kegiatan selalu dalam suasana gayeng.
I’IED RAHMAT RIFADIN, Surabaya
”SENENG aja, nyaman. Beruntung. Kayak ketemu ’rumah’,” ucap Esty Prastyaningtias, perantau asal Kemirahan, Kota Malang, Jawa Timur, yang saat ini tinggal di Bielefeld, negara bagian Nordrhein-Westfalen, Jerman.
Alumnus Sastra Jerman Universitas Negeri Malang itu merespons pertanyaan Jawa Pos (grup Timex) melalui telepon tentang apa yang membuatnya mau ber-Fatayat di Jerman, Kamis (13/2) pekan lalu.
Apalagi, untuk ikut kegiatan Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) yang diperuntukkan bagi generasi muda putri itu di Jerman sama sekali tak perlu syarat khusus. Sukarela. Serba kekeluargaan.
Sejak berdiri pada akhir 2020, Fatayat Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Jerman rutin mengadakan pengajian dua minggu sekali secara daring maupun luring pada Jumat. Biasanya yang datang saat luring sekitar 20–30-an orang.
Sebelum Fatayat berdiri, pengajian rutin khas warga nahdliyin di Jerman sudah ada. Namun, menjadi satu dengan seluruh keluarga besar PCI NU Jerman.
Nur Yuchanna, ketua Fatayat PCI NU Jerman, mengatakan, kehadiran organisasinya di Jerman memang ingin menjadi teman sekaligus wadah yang menyertai para generasi muda putri. Itu agar mereka merasa tetap memiliki rumah untuk kembali, rumah untuk bertanya tentang segala hal, di tengah kesibukan masing-masing di perantauan.
”Biar tetap ada pijakan. Ndak ucul (tidak lepas),” ucap putri pasangan KH Syaeful Fatah-Chusnul Khotimah, rais syuriah dan ketua Muslimat PCI NU Jerman, tersebut.
Ning Yoan, begitu Nur Yuchanna akrab disapa, menyebutkan, Fatayat PCI NU Jerman sama sekali tidak pernah memaksa atau membuat metode tertentu untuk menggaet anggota. ”Seperti ngajak ngaji bareng aja. Kalau mau ya monggo, kalau nggak ya nggak papa,” jelas perempuan yang tinggal di Jerman sejak 2004 itu.
Sharing setelah Ngaji
Dalam setiap pengajian, seperti warga nahdliyin di tanah air, mereka bersama-sama bertawasul membaca Yasin, Asmaul Husna, Shalawat Diba’, hingga tahsin bacaan Alquran bersama-sama. Setelah mengaji, acara diisi dengan sharing bersama tentang berbagai hal.
Tema yang dibahas biasanya seputar fikih wanita, pendidikan, maupun diskusi terkait hal-hal yang mereka temui selama hidup di tanah perantauan. Kumpul-kumpul bareng sesama orang Indonesia itu sekaligus menghapus rindu akan suasana ngaji bareng di kampung halaman Indonesia.
Yang jelas, semua itu dibungkus dengan tidak meninggalkan kekhasan warga nahdliyin selama ini: suasana kekeluargaan dan gayeng.
”Saya malah lebih dikenal banyak bercandanya sama teman-teman di sini,” kata Ning Yoan yang merupakan keturunan langsung generasi keempat Mbah KH Ma’shum Ahmad, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
Fatayat Jerman selama ini juga aktif ambil bagian dalam berbagai kegiatan yang diadakan pengurus Muslimat maupun PCI NU Jerman. Seperti Muharaman, halalbihalal, maupun berbuka bersama saat Ramadan tiba.
Bagi Esty, ber-Fatayat di Jerman seakan menemukan keluarga baru. Perempuan yang kali pertama ke Jerman pada Desember 2012 untuk mengikuti program aupair (bekerja sambil kursus) itu bahkan lebih suka menyebutnya rumah.
Sebab, bukan hanya wadah untuk berorganisasi dan beribadah bersama. Tapi, juga tempat dia bisa bertanya berbagai hal yang sempat membingungkan tanpa sungkan.
Saat pertama tiba di Jerman, Esty yang menyelesaikan S2 di Jerman dan kini bekerja di biro tenaga kerja tersebut mengaku sempat bingung karena perbedaan waktu. Saat musim dingin, dia bahkan harus sudah berangkat kerja sebelum waktu salat Subuh tiba.
Sebagai minoritas, pikirannya juga dipenuhi banyak pertanyaan. Termasuk cara berinteraksi dengan warga setempat. ”Seperti saat diundang merayakan Natal itu bagaimana menyikapinya,” jelasnya.
Masalah-masalah seperti itu yang bisa dia konsultasikan. Dan, akhirnya menemukan jawaban dari para pengurus Fatayat maupun PCI NU Jerman.
Latar Anggota
Ber-Fatayat atau menjalankan roda organisasi NU di Eropa jelas berbeda dengan di Indonesia. Dari latar anggotanya yang di grup WhatsApp mencapai 200-an orang saja sudah jauh.
Di Indonesia, mayoritas anggota Fatayat para pemudi yang sebelumnya sudah pernah mengenyam pendidikan Islam maupun pesantren. Sementara di Jerman sangat beragam.
Ning Yoan bahkan mengakui, sampai saat ini masih ada anggotanya yang memutuskan untuk tidak berhijab. Tapi, dia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan.
”Kadang kalau posting di media sosial malah yang rame, ’Lho Fatayat kok ndak pake hijab, ke mana hijabnya?’” ceritanya.
Sesuai garis dakwah NU selama ini, Ning Yoan berusaha selalu menempatkan Fatayat Jerman berada di tengah. Menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman. Sebab, cara itu juga yang terbukti mampu menjadikan Fatayat sebagai rumah bagi generasi muda putri Indonesia di tanah perantauan, belasan ribu kilometer dari kampung halaman. (c19/ttg/jpg/ays/dek)