Muncul Lagi Varian Baru Covid-19, Ditemukan di India, Namanya Omicron BA.2.75

  • Bagikan
ILUSTRASI. Seiring berkembangnya varian baru dan meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia, pemerintah berupaya meningkatkan cakupan vaksin Covid-19 dengan mewajibkan vaksin booster atau penguat. (FOTO: Dok. JawaPos)

JAKARTA, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID-Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Sebaliknya, virus ini terus bermutasi melahirkan varian atau sub-varian baru.

Data terkini, di India telah ditemukan subvarian baru turunan Omicron. Namanya sub-varian BA.2.75. Subvarian ini menjadi perhatian khusus. Pasalnya, setiap mutasi berpotensi memungkinkan virus menghindari antibodi. Sehingga bisa saja virus itu kemampuan untuk menginfeksi orang yang telah terinfeksi sebelumnya, serta mereka yang divaksinasi.

Sampai saat ini, India telah mencatat setidaknya 46 kasus BA.2.75. Hal ini merujuk pada database sumber terbuka Global Initiative on Sharing All Influenza Data. Namun, varian tersebut belum tercatat resmi pada Konsorsium Genomics SARS-CoV-2 (INSACOG), badan pengawasan genom yang berfungsi di bawah Kementerian Kesehatan.

“Kami melihat bagaimana subvarian BA.2 memicu gelombang ketiga pada bulan Januari, masih menyebabkan penularan dan infeksi ulang pada bulan Juni. Itu mengarah pada penemuan BA.2.75, yang memiliki lebih dari 80 mutasi, sementara BA.2 memiliki sekitar 60,” kata seorang ilmuwan INSACOG kepada Times of India seperti dikutip JawaPos.com. “Kini kami menemukan BA.2.74, BA.75 dan BA.2.76,” tambahnya seperti dilansir dari First Post, Senin (4/7).

Selain BA.2.75, India juga telah mendeteksi sekitar 298 kasus BA.2.76, diikuti oleh 216 kasus BA.2.74. Selain India, strain juga telah dilaporkan oleh tujuh negara lain Jepang, Jerman, Inggris, Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan New Selandia, sesuai data yang disediakan oleh Nextstrain.

Seorang ilmuwan genomik India telah menjelaskan bahwa varian BA.2.75 mencakup mutasi baru pada protein lonjakan, selain mutasi yang sudah ada pada varian Omicron. Dikhawatirkan subvarian ini memberikan varian kemampuan untuk menghindari beberapa antibodi. Ini memungkinkan varian untuk menginfeksi orang yang telah divaksinasi atau telah terinfeksi sebelumnya.

“Ini berarti bahwa BA.2.75 bisa memengaruhi antibodi yang serupa dengan BA.4 atau BA.5 sehubungan dengan vaksin saat ini,” katanya.

Hingga saat ini varian generasi kedua ini baru ditemukan pada beberapa kasus dalam satu wilayah. Ini adalah pertama kalinya varian generasi kedua dari Omicron menyebar ke berbagai wilayah.

BA.5 Terbanyak di Indonesia

Sementara itu, Juru Bicara Kemenkes, Mohammad Syahril mengatakan bahwa sebanyak 87 persen kasus Covid-19 yang beredar di Indonesia merupakan sub-varian baru, yakni BA.5.

“Sebagai informasi sudah 87 persen sub-varian BA.5, itu sudah mendominasi (pandemi) Covid-19 ini. Jadi (trennya) sudah bergeser ke sub-varian BA.5,” kata Syahril dalam Siaran Sehat Bersama Dokter Reisa secara daring diikuti di Jakarta, Senin (4/7).

Syahril menyatakan, meskipun sub-varian BA.5 sudah mendominasi, namun gejala yang ditimbulkan pada pasien Covid-19 tidak lebih berat dibandingkan dengan varian Omicron yang sempat mengakibatkan terjadinya lonjakan kasus pada awal tahun 2022.

Gejala yang lebih ringan dibandingkan Delta dan Omicron tersebut kemudian membuat keterisian tempat tidur di rumah sakit (BOR) saat ini berkisar delapan hingga sembilan persen.

“Sehingga kalau kita lihat data di sini, yang sakit sedang hanya sekitar delapan sampai sembilan persen. Jadi tidak seperti halnya Delta maupun Omicron yang lalu, jadi tidak usah khawatir tingkat keganasannya atau tingkat keparahannya, itu tidak terlalu berat, sehingga kita lebih banyak orang tanpa gejala (OTG) dan gejala ringan saja,” kata dia.

Saat ini yang terpenting, kata Syahril, adalah kewaspadaan yang dibangun baik dari pemerintah maupun masyarakat agar tidak terlena dengan kondisi yang sudah terkendali, sehingga keterisian rumah sakit tidak melonjak tinggi serta menekan potensi terjadinya kematian pada pasien Covid-19.

“Kewaspadaan bersama artinya masyarakat juga harus waspada, pemerintah apalagi. Hanya satu yang harus kita waspadai yaitu melakukan dan mencegah penularan. Kedua mengendalikan, kalau orang sudah kena, tidak apa-apa, tapi yang penting terkendalikan agar tidak terlalu berat,” ucap Syahril.

Sebagai bentuk pengendalian pandemi Covid-19, pemerintah sendiri mulai menerapkan kembali pelonggaran-pengetatan kebijakan guna mengikuti tren naik turunnya kasus positif di tengah masyarakat.

Seperti yang ditegaskan dalam Surat Edaran Satgas Covid-19 Nomor 20 tahun 2022 terkait protokol kesehatan pada pelaksanaan kegiatan berskala besar dalam masa pandemi Covid-19 yang mulai berlaku per 21 Juni 2022.

Pemerintah juga kembali meningkatkan kapasitas tes Covid-19 beserta pelacakan kasus positif. Berbagai fasilitas kesehatan pun telah disiapkan apabila lonjakan kasus BA.5 terjadi di Indonesia.

“Pak Menteri juga sudah membuat edaran kepada seluruh rumah sakit terutama di Jakarta, untuk waspada. Sebagian dulu, andaikan terjadi lonjakan dirawat, kita sudah siap. Wisma Atlet saya kira juga sudah bagus mereka sudah siap,” ujar Syahril.

Syahril berharap dengan semua upaya pemerintah yang dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dalam masyarakat, pengendalian Covid-19 dapat berhasil dan mencegah terjadinya gejala berat pada pasien Covid-19. (jpc/jpg/ant/aln)

  • Bagikan