Bencana di Matim Mempengaruhi Kualitas Pelayanan UPTD SPAM

  • Bagikan
Petugas UPTD SPAM Kabupaten Matim di IKK Watunggong, saat melakukan kegiatan bersih di sumber Wae Kewo. (IST)

BORONG, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID-Akibat angin dan curah hujan tinggi, Sabtu (9/3/2024) kemarin, tidak hanya mengakibatkan sejumlah wilayah desa di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), dilanda banjir dan tanah longsor. Namun juga merusak fasilitas jaringan pipa air milik UPTD SPAM setempat.

Kondisi itu tentu sangat mempengaruhi kualitas pelayanan dari operator di bawah Dinas PUPR Matim ini terhadap masyarakat, khususnya 123 pelanggan di desa Satar Kampas, dan Satar Punda. Jaringan transmisi dan distribusi yang bersumber dari Wae Darah, kondisinya putus total diterjang banjir Kali Wae Darah.

"Terhitung sudah 3 hari sejak, pelayanan air minum disana terganggu karena air tidak mengalir. Sebelumnya pernah putus karena banjir, dan sudah diperbaiki. Tapi bencana Sabtu kemarin, kembali putus akibat dihantam banjir," ujar Kepala UPTD SPAM Matim, Fransiskus Yun Aga, kepada media ini di Borong, Rabu (13/3/2024).

Lanjut Fransiskus, dampak dari bencana itu, pelayanan kepada pelanggan terhambat. Pihaknya akan berupaya melakukan perbaikan, setelah kondisi cuaca di wilayah Utara Kabupaten Matim, sudah bersahabat. Pasalnya, lokasi pipa rusak tersebut sangat jauh dengan melewati hutan. Juga jalur pipa, ada di aliran kali Wae Darah.

"Pipa transmisi jenis Gip yang putus ini, melintas di Kali Wae Darah. Kita takut terjadi banjir susul, karena cuaca belum bersahabat. Jarak lokasinya juga jauh, dan melewati hutan. Jadi nanti untuk perbaik, kita harus butuh banyak orang untuk pikul geset dan mesin las," bilang Fransiskus yang akrab disapa Kevin.

Menurutnya, sebelum pipa diperbaik, pihaknya terlebih dahulu melakukan pembersihan kotoran pada sumber, dan juga pipa. Termasuk kotoran daun serta batang kayu bangunan penangkap atau brongkap. Tentu kondisi ini akan berpengaruh terhadap kualitas air yang didistribusikan.

"Air yang tersedia, tidak bisa mengalir karena kotoran daun, lumpur, dan batang kayu yang menghalangi aliran air dalam pipa. Solusinya, pembersihan langsung di sumber. Tapi dengan kondisi cuaca yang terjadi disana, tentu ini akan dipertimbangkan untuk keselamatan petugas," katanya.

Dimana sumber air baku Wae Darah dengan unit produksi, sangat jauh dan berada di tengah hutan. Sehingga upaya pembersihan itu bisa dilakukan, setelah kondisi cuaca sudah baik. Ketika hujan angin yang terjadi, resiko terhadap kayu tumbang dan ranting kayu jatuh, akan mengancam keselamatan petugas. Ancaman itu yang membuat susah untuk melakukan pembersihan.

Dalam waktu satu atau dua pekan kedepan, sesuai prakirakaan BMKG soal cuaca, mohon untuk dipahami ketika tiba-tiba air menurun secara kualitas atau kontinuitasnya. Kondisi tersebut tidak seperti biasa kalau cuaca bagus, bahwa setiap saat petugas ada di sumber.

Kata Kevin, peristiwa yang sama juga terjadi di IKK Watunggong, Kecamatan Congkar. Dimana sumber air minum dari Wae Kewo, mengalami penurunan produksi selama 2 hari terakhir. Penyebabnya, terjadi hujan yang melanda wilayah itu. Apalagi sumber yang ada mengambil sadap dari sungai. Ketika banjir, maka seluruh material akan menghalangi proses produksi.

Hal yang sama, bahwa pilihanya melakukan pembersihan di sumber. Tapi itu bisa dilakukan dikondisikan dengan cuaca. Kepada masyarakat, disampiakan bahwa, penyebab semua itu akibat bencana. Berharap masyarakat bisa memahami hal yang terjadi. Yakin, pihaknya yang pasti selalu berusaha secepatnya untuk dapat di antisipasi dengan baik.

"Tapi untuk sumber Wae Kewo, hari ini petugas kita sudah mulai kegiatan bersih di sumber. Karena sumber air minum untuk IKK Watunggong ambil dari kali, dan saat banjir menghalangi bangunan penangkap atau pipa yang untuk produksi ke Watunggong. Sementara Wae Darah, kita tunggu cuaca bagus," tutupnya, (Kr1).

  • Bagikan