Hasil Pileg Dinamis dan Sulit Diprediksi

  • Bagikan
Jimmy Nami

Timbul Tenggelam Perolehan Kursi

KUPANG, TIMEX .FAJAR.CO.ID- Pemilu 2024 telah menghasilkan partai-partai politik dengan perolehan kursinya masing-masing. Ada yang tidak dapat sama sekali, menurun dan bahkan terjadi peningkatan.

Hal itu menjadi evaluasi tersendiri bagi tiap parpol. Misalnya, untuk partai sekelas Golkar dan PDIP pun juga mengalami penurunan.

Golkar dan PDIP di pemilu 2019 mendapatkan 10 kursi di DPRD provinsi. Namun, kali ini harus turun satu kursi. Dengan begitu, perolehan sembilan kursi kali ini bukan saja oleh Gerindra, melainkan Golkar dan PDIP.

"Golkar dan PDIP adalah dua partai yang berkedudukan setara dari sisi jumlah kursi tingkat provinsi selama dua pemilu terakhir. Kedua partai sama-sama meraih 10 kursi pada pemilu 2019 dan juga sama-sama sembilan kursi pada pemilu 2024," ujar Ketua Bappilu Partai Golkar NTT, Frans Sarong, Selasa (26/3).

Perolehan kursi Partai Golkar di DPRD kabupaten/kota pun menurun dari sebelumnya 86 kursi menjadi 80 kursi.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Media dan Komunikasi DPW Partai Nasdem NTT, Elas Jawamara mengatakan, untuk provinsi kali ini Nasdem kehilangan satu kursi dari sebelumnya delapan kursi.

"Untuk kabupaten ada yang naik, ada yang turun. Flores Timur dari empat jadi tujuh (kursi), Manggarai Barat dari lima jadi tujuh," kata Elas.

Sementara itu, Partai Gerindra naik dari enam kursi menjadi sembilan kursi di DPRD provinsi. Sementara itu, PSI juga mengalami kenaikan. Dari sebelumnya hanya 11 kursi se-NTT, kini naik menjadi 36 kursi.

"Berarti di provinsi meningkat 600 persen, enam kali lipat. Secara keseluruhan provinsi, kabupaten dan kota meningkat 300 persen lebih," ujar Ketua DPW PSI NTT, Christian Widodo, beberapa waktu lalu.

Penurunan signifikan dialami oleh Perindo. Di mana, sebelumnya di provinsi mendapat satu fraksi utuh. Namun, kali ini Perindo hanya mendapat satu kursi saja.

"Melenceng jauh dari perhitungan. Target kami tetap satu fraksi utuh dan kalau bisa dapat pimpinan dewan, tapi meleset jauh," kata Sekretaris Perindo NTT, Arieston Dappa.

Menurutnya, pemilu saat ini adalah pemilu yang transaksional, sehingga apapun strategi dari caleg apabila tidak didukung dengan finansial yang cukup, maka akan membuahkan hasil yang sama saja.

PKS pun juga mengalami penurunan yang sama di kabupaten/kota, yakni dari 18 turun menjadi 14 kursi. Untuk di provinsi, berhasil mendapatkan satu kursi. Sementara partai kecil seperti Partai Buruh, Partai Ummat, Partai Gelora dan Partai Garuda tak terlihat sedikit pun.

Pengamat politik dari Undana, Yohanes Jimmy Nami mengatakan, naik turun itu merupakan salah satu konsekuensi dari pemilu serentak. Di mana, hasil pileg tentu sangat dinamis dan sulit untuk diprediksi.

"Karena secara teknis voters terbelah konsentrasinya karena demikian banyak keputusan yang harus diambil dalam bilik suara untuk waktu yang singkat terhadap siapa atau partai apa yang akan dipilih," terang Jimmy.

Voters cenderung sporadis untuk menentukan pilihannya ketika tidak mengenal baik caleg yang akan dipilih. Di satu sisi tentu akan berimbas negatif bagi partai-partai besar atau yang sudah lama maupun caleg incumbent di parlemen karena kontrol terhadap sikap pemilihnya kemudian menjadi lentur.

"Sedangkan bagi partai baru atau caleg baru tentu menguntungkan karena selain datang sebagai pendatang baru yang lebih menjanjikan dengan pragmatisme yang dikemas juga akan mendapatkan limpahan suara dari swing voters yang memang sampai hari H belum punya pilihan politik yang firm. Fenomena ini yang kemudian nampak cukup kuat yang mewarnai konfigurasi parpol hasil pileg 2024," katanya.

Sementaram pengamat politik dari Unwira Kupang, Urbanus Ola Hurek menyampaikan, penurunan perolehan suara beberapa parpol besar disebabkan antara lain, tidak tersebar merata kader yang dimiliki parpol sebagai ikon/panutan dalam mendulang suara. Dengan pembagian dapil, parpol dituntut mempersiapkan kader pada setiap dapil yang mampu berkompetisi dengan caleg parpol lain.

Tingkat kejenuhan pemilih memilih calon yang sama, walaupun calon petahana meraih kursi, namun cenderung menurun perolehan suaranya. Penyebab ketiga adalah muncul pemilih rasional yang kritis terhadap kemasan isu yang dikampanyekan. Pemilih kritis terhadap program yang ditawarkan berulang kali, namun dipandang kurang logis atau sekadar janji hampa.

Terkait partai seperti PPP, PKS dan Perindo yang tak mampu menandingi perolehan kursi partai lainnya adalah tidak adanya figur yang memiliki basis suara besar. Basis pemilih latennya tidak sejalan dengan orientasi atau kiblat pimpinan partai. Partai-partai ini pun di NTT kurang memiliki basis militan yang mengakar sehingga kursi yang diraih pun timbul tenggelam. (cr1/ays)

Perolehan kursi partai di NTT

Partai Golkar

Kabupaten/kota : 80 kursi

Provinsi : 9 kursi

PDIP

Kabupaten/kota : 82 kursi

Provinsi : 9 kursi

Partai Nasdem

Kabupaten/kota : 95 kursi

Provinsi : 8 kursi

PKB

Kabupaten/kota : 76 kursi

Provinsi : 7 kursi

Partai Gerindra

Kabupaten/kota : 72 kursi

Provinsi : 9 kursi

PKS

Kabupaten/kota : 14 kursi

Provinsi : 1 kursi

PSI

Kabupaten/kota : 30 kursi

Provinsi : 6 kursi

Partai Perindo

Kabupaten/kota : 45 kursi

Provinsi : 1 kursi

SUMBER: Olahan Timex

  • Bagikan